Jam tangan adalah gawai penunjuk waktu. Tak lebih begitu, meskipun kini dengan berbagai jenis dan fitur yang disematkan pada jam tangan, boleh jadi bagi sebagian orang fungsinya malah berbeda sama sekali. Beragam cara dan kesan orang dalam memakai jam tangan. Sekilas bisa saja muncul kesan arkais kolot yang ingin mencitrakan diri dengan hal-hal yang berbau masa lalu. Akan tetapi tentu saja banyak ragam experience orang dalam menggunakan jam tangan dan memang tentu bisa terkesan negatif.
Melihat fungsi penggunaan jam tangan itu sendiri setidaknya kesan yang paling kuat adalah citra orang yang memperhatikan waktu. Menggunakan jam tangan membuat seseorang lebih mudah untuk mengecek keterkaitan segala hal dengan waktu di sela-sela kegiatannya untuk setiap pembagian waktu apakah dari jam ke jam, menit ke menit bahkan detik per-detik. Akan sangat berbeda baginya jika harus mengetahui waktu dengan melihat ponsel, bertanya kepada orang atau mencari jam dinding yang terpasang di tempat-tempat publik. Keterikatan intens seperti ini pula yang dengan sendirinya mengkondisikan seorang pengguna jam bisa merasa sangat tidak nyaman apabila tidak mengenakannya.
Di antara para pesohor Indonesia ada beberapa yang mengungkapkan bahwa ia harus selalu mengenakan jam tangan bahkan di saat tidur. Menurutnya, ketika terlupa saja, kesannya seperti tanpa memakai celana dalam.
Di sisi lain penggunaan jam tangan juga telah menjadi tren gaya hidup yang menjadi ukuran banyak hal. Ia bisa menunjukkan prestise, kemapanan, keperkasaan, wibawa atau juga bukan apa-apa (nihilism) sama sekali. Dengan memperhatikan kesan yang diungkapkan di atas, sebagai apapun seseorang menggunakan jam tangan, jika bukan ia yang tidak mampu memahami keterikatannya dengan jam tangan, orang lain yang memahami justru yang memanfaatkannya. Bukankah bukan satu dua berita yang menyebutkan adanya kebijakan yang dilakukan seorang pejabat negara dirubah oleh sebuah jam tangan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar